Tampilkan postingan dengan label tropis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tropis. Tampilkan semua postingan

Hotel di Kehijauan Hutan Tropis - Bagian Keempat


Bar hotel di puncak tangga ganda, dihiasi patung­patung Komoro yang memperkaya pemandangan lanskap dari arah jendela. (bawah)

suku Komoro dan Asmat yang mengasimi­lasikan bangunan dengan budaya lokal jelas menambah keistimewaannya di samping tata letak bangunan yang menyusup ke hutan.  Berbagai ukiran mulai dari pernik mungil hingga patung berukuran tiga meter terdapat pada area bar dan halaman masuk.
Tipikal rumah lrian memang tidak terda­pat dalam arsitektur hotel bergaya tropis yang didesain simpel klasik berdasarkan kondisi alam dan ketersediaan materi.
Cool. Hotel di Kehijauan Hutan TropisWood, Hotel di Kehijauan Hutan Tropis
Di tepi kolam renang yang menyerupai laguna, sosok rumah lrian hadir dalam fungsinya sebagai bar.
 Hotel di Kehijauan Hutan TropisHotel di Kehijauan Hutan Tropis
Hotel di Kehijauan Hutan Tropis
Namun, di tepi kolam renang yang menye­rupai laguna, sosok rumah lrian hadir dalam fungsinya sebagai bar,
Sebuah museum bernama lrian Jaya Room di dalam hotel dibangun untuk menghormati penduduk lokal serta budaya mereka.  Sarana video digunakan untuk me­nampiikan sejarah natural dan kultural yang dipertunjukkan dalam format besar.  Reser­vas alam dan budaya lokai memang tetap mer)lad tujuar hotel yang pembangunan nya berlangsung pada 1992 h ngga 1994.  Rebo sas hutan pun menjadi salah satu program d dalam proses pengembangan arsitektur berwawasan lingkungan ini

Hotel di Kehijauan Hutan Tropis - Bagian Ketiga


TROPIS ETNIK
Desain penginapan bergaya tropis yang luasnya mencapai 10.000 meter persegi, dibangun di atas lahan seluas kurang lebih 5 hektare dengan menggunakan materi alam,dalam negeri, seperti kayu merbau asal lrian Jaya untuk sambungan (trim) dan lantai, serta kayu sungkai dari Sumatra untuk pintu-pintu dan furnitur.  Perangkat interior yang mengangkat elemen etnik, seperti lukisan, tekstil, artefak, dan ornamen antik tidak saja diambil dari kekayaan seni penduduk sekitar, tetapi juga dari seluruh kawasan Indonesia.
Hotel di Kehijauan Hutan Tropis
Marry Ann Murphy yang bertanggung jawab dalam hal pengisian kriya memberi sentuhan khusus dalam mondekorasi kamar tidur yang berjumiah 84 buah.  Setiap kamar dihiasi tekstil tradisional dari wilayah berbeda sehingga karakter yang timbul pun memiliki keunikan sendiri-sendiri.
Hotel di Kehijauan Hutan Tropis
Keberadaan elemen etnik lndonesia yang menawarkan warna-warna alam sa­ngat menunjang kehangatan atmosfer struktur kayu dan platon yang dijalin dari buluh bambu Keotentikan seni ukir primitif
Hotel di Kehijauan Hutan TropisHotel di Kehijauan Hutan Tropis
Keanggunan tangga ganda menghantarkan tamu-tamu ke lantai atas bangunan utama untuk mencapai jembatan menuju bungalo.

Hotel di Kehijauan Hutan Tropis - Bagian Kedua


Selain tata letak bungalo yang memen­car, kiat menyatukan sosok bangunan ke alam dilakukan dengan memanfaatkan materi seperti kayu dan batu dalam wujud aslinya.  Dinding lantai dasar bangunan utama yang di antaranya meliputi lobi dan resto, terdiri atas susunan batu ekspos yang diambil dari sungai di dekat lokasi hotel. Pada unit-unit bungalo yang didesain seperti rumah pangung, susunan batu ini dimanfaatkan sebagai kaki penyangga.  Konstruksi panggung terutama dilakukan untuk memelihara vegetasi alam, mempertahankan resapan air hutan, dan mengura­ngi dampak iklim hujan tropis terhadap bangunan.  Di samping itu, ketinggian yang dicapai pun memungkinan pengoptimalan sudut pandang ke arah hijaunya panorama hutan.
Dekorasi Rumah
Jembun ganda yang di hawah dilengkapi penyekat anti serangga, menghubungkan bungalo dengan bangunan utama. 
Dekorasi Rumah
Menara-menara pengawas ditempatkan di setiap ujung modul bungalo. lokasi hotel dilihat dari atas.

Patung-patung setinggi tiga meter di halaman depan, dibuat oleh suku Komoro untuk menyambut tamu-tamu yang datang.

Hotel di Kehijauan Hutan Tropis - Bagian Pertama

Hotel di Kehijauan Hutan Tropis
Di tepi indahnya belantara lrian Jaya, hotel berstandar internasional Sheraton Inn tampak menyatu dengan alam karena bangunan utama dan unit-unit bungalo berlantai dua ditata menyusup ke dalam hutan.  Untuk menghubungkan setiap unit bungalo yang masing-masing memiliki 16 kamar tidur, disediakan jembatan-jembatan berpenyekat antiserangga yang desainnya mementingkan kedekatan alam.  Menurut Robert Steul, salah satu arsitek dari kon­sultan arsitektur yang berpusat di Missouri, Amerika Serikat keistimewaan tempat per­istirahatan tersebut terletak pada prinsip dasar desainnya yang berusaha memini­malkan dampak bangunan terhadap ling­kungan.

Konstruksi panggung terutama dilakukan untuk memelihara vegetasi alam, mempertahankan resapan air hutan, dan mengurangi dampak iklim huian tropis terhadap bangunan.