Tampilkan postingan dengan label budiman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budiman. Tampilkan semua postingan

RUMAH BUJANGAN GAYA APARTEMEN - BAGIAN 3


ATRAKTIF. Kejelian mengekspresikan imaji untuk menciptakan atmosfer berbeda pada setiap ruang menjadi pertimbangan prima. Berbeda dengan ruang ganti, area makan yang menyatu dengan penanggah terasa sangat atraktif. Tampilan jiwa mudanya lahir melalui nuansa hijau pastel pada salah satu bidang dinding diantara warna-warna krem lainnya. Furnitur yang dihadirkan begitu ringan, mengingatkan pada kursi-kursi kedai pada zaman dulu. Dengan daun meja bermateri mozaik, area ini nyata memiliki warna interior simpel serta dinamis.
RUMAH BUJANGAN GAYA APARTEMEN

     Sebuah rumah adalah cermin dan karakter penghuninya. Meski tak begitu luas dan bukan rumah pribadi, rumah ini terasa memiliki pendaran jiwa sang pemilik. Sentuhan gaya oriental Cina dengan penataan interior yang praktis dan fungsional, rumah mungil sang desainer ini layak disebut rumah gaya apartemen.
RUMAH BUJANGAN GAYA APARTEMEN

RUMAH BUJANGAN GAYA APARTEMEN - BAGIAN 2


     Agar tidak terjebak dalam kemonotonan satu gaya, ia pun menghadirkan pula elmen penunjang interior lainnya dari Indonesia yang berupa litografi bangunan bersajarah kota Jakarta. Kemudian, dari Cirebon berupa lemari pakaian. Gaya Semarang-an berupa lemari makan. Dan, dari Bali berupa beberapa patung serta meja altar panjang. Seluruh elemen ini masih pula dipadukan kembali dengan elemen penunjang interior dari mancanegara, seperti Filipina, Amerika, dan Australia.
RUMAH BUJANGAN GAYA APARTEMEN

ANTIK. Ruang tidur utama yang dipisahkan dengan ruang ganti pakaian memperlihatkan karakter yang begitu simpel dan yang bersentuhan oriental. Penempatan sepasang tempat lilin berbentuk pilar menjadi aksen manis diatas lemari Cina yang telah dimodifikasi sebagai credenza samping (kiri-kanan) tempat tidur. Dengan gaya penataan interior yang hangat serta aroma terapi dari lilin yang kadang dinyalakan, pria muda ini merasa sangat nyaman di ruang tidurnya.
RUMAH BUJANGAN GAYA APARTEMEN

     Karena fungsinya yang beragam -- sebagai penyimpanan pakaian, penyimpanan sarana hobi, aksesori, serta beberapa koleksi benda antik -- ruang ganti pakaian ini bisa disebut juga ruang serbaguna. Dan, melalui penataan furnitur antik dengan seluruh aksesori koleksinya, ruang ganti justru melahirkan sentuhan etnik yang antik.

RUMAH BUJANGAN GAYA APARTEMEN - BAGIAN 1


     Seorang desainer interior, memeiliki sentuhan khusus untak gaya penataan interior rumahnya. Di kawasan Jakarta Selatan, sang desainer yang masih berstatus bujangan menempati rumah instansi berlantai dua (area servis di lantai atas dan privat di lantai bawah) yang tidak begitu luas.
Hanya sekitar 120 meter persegi untuk luas tanah, sedangkan luas bangunannya sendiri berkisar
82 meter. Dengan keterbatasan ruang gerak (karena rumah instansi) ia pun menata gaya interior spraktis dan sesimpel mungkin. Oleh karena itu, wajar jika kondisi diatas membuahkan pertimbangan sang desainer interior untuk tak banyak melakukan renovasi.
RUMAH BUJANGAN GAYA APARTEMEN

ORIENTASI DAN PADUANNYA. Rumah mungil yang baru ditempati sekitar satu tahun ini diwarnai gaya oriental Cina. Dengan pertimbangan agar tidak berkesan penuh, desainer muda yang menyukai furnitur antik terpaksa memadukannya dengan furnitur yang baru.
RUMAH BUJANGAN GAYA APARTEMEN
     Sentuhan Negeri Cina yang mendominasi interior rumah san desainer yang menggemari perjalanan (travelling) sangat terasa di ruang tamu melalui lukisan tua dua pasang bangsawan Dinasti Ming dengan kostum yang kaya detail serta kaya warna. "Gambar ini saya peroleh dari Singapura. Ekspresi gambar tersebut sangat kaya, sehingge menjadi fokus gaya oriental yang saya inginkan

Rumah Antik Pak Budiman - Bagian Kedua - Obsesi Rumah Modern


Loro Blonyo di atas peti -  Rumah Antik Budiman

OBSESI RUMAH MODERN

Saat ini Budiman memang membatasi penanganan desain rumah tinggal. la mengaku merasa lebih sulit memenuhi kebutuhan si pemilik karena menurutnya, "Membuat rumah itu seperti membuat sarung tangan, harus pas.  Sementara, mendesain bangunan untuk umum lebih menawarkan kebebasan karena kalangan pemakainya jauh lebih luas."
Desain modern yang menyesuaikan lingkungan memang menjadi trade mark karya-karya Budiman.  Untuk tempat tinggal, ia pun kini tengah menginginkan rumah lain dengan penerapan unsur modern secara total.  "Koleksi antik saya yang ada sekarang tidak mungkin dipadukan dengan arsitektur modern," katanya.  " Unsur modern akan bertabrakan dengan perabot etnik klasik, tapi lain hainya jika perabot tersebut bergaya primitif, tentu akan menarik." Sampai kini, rumah dengan totalitas desain bergaya modern memang masih menjadi obsesi Budiman.  Gambaran detail wujudnya, hanya ia yang tahu. 

" Membuat rumah itu seperti membuat sarung tangan, harus pas.  Somentara, mondesain bangunan untuk umum lebih menawarkan kebebasan karena kalangan pemakainya jauh lebih luas."

bekerja di Melbourne menjadi bekal dalam menangani sendiri proyek-proyek DCM Melbourne di Indonesia yang kemudian bernaung di bawah nama PT Duta Cermat Mandiri.  Berbagai penghargaan bahkan berhasil diraih, seperti Tattlers Award 101 Best Hotel in the World untuk Tugu Park Hotel yang diadakan tahun 1995.  "Kelebihan DCM di mana pun, seperti juga menjadi prinsip saya, adalah selalu mencari sesuatu yang baru.  Meskipun fungsi tetap nomor satu, selebihnya bangunan harus dapat memberi sesuatu kepada masyarakat karena arsitektur mempunyai tanggung jawab untuk dapat berdialog dengan lingkungan dan pemakai", demikian paparnya serius.

Gaya hidup, kesenangan, dan keinginan pemilik untuk memiliki tempat tinggal Vang nyaman dan sesuai kebutuhan dapat terpancar dari perencanaan dan penataan sebuah griya.

Rumah Antik Pak Budiman - Bagian Pertama


Rumah Antik Pak Budiman - Bagian Pertama

Bersama sang isteri, Budiman mulai mengembangkan bobinya berburu barang antik yang kebanyakan ia beli di Malang, kota kelahirannya dalam mewujudkan kediamannya.

Upaya mengurangi kemasifan sosok rumah berlantai dua yang selesai tahun 1987, dilakukan dengan menghadirkan tiga kuncup ruang menyerupai miniatur rumah-rumah Jawa di dak lantai atas.  Bentuk-­bentuk tersebut tampak bersesuaian dengan koleksi antik yang ada.  Lebih dari itu, eksperimentasi unsur tradisional dalam unian masa kini mampu memenuhi tuntutan Budiman yang seialu memperhatikan keadaan lingkungan.

PENGEMBARAAN DI AUSTRALIA

Setamat dari SMA St. Albertus, Malang, tahun 1972, Budiman muda mengikuti jejak kakaknya yang telah lebih dahulu meneruskan kuliah di Melbourne, Australia.  Pada saat itu, jurusan arsitektur belum meniadi pilihannya yang semula berpeluang meniadi dokter.  Baru saat berkecimpung dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia, minatnya terhadap arsitektur tumbuh karena para aktifis di situ kebanyakan berasal dari jurusan tersebut.
Prestasi dan ide segar Budiman saat belajar di University of Melbourne, tendorong salah seorang pengajar yaitu Prof.  Hugh O'Neill - pakar bangunan mesjid seluruh Indonesia - untuk mempromosikannya bekeria di biro arsitektur Denton Corker Marshall Pty.  Ltd. (DCM) yang terkenal di sana.  John Denton, Bill Corker, dan Barry Marshall yang juga pernah menjadi anak didik Prof.  O'Neill adaiah pendiri perusahaan tersebut.  Kesem­patan ini tentu saja tidak disia-siakan oleh Budiman yang lulus dengan gelar Bachelor of Architecture with Honours tahun 1981. Saat kembali ke Indonesia tahun 1982, Budiman membentuk rumah tangga bersama Lyd'ia vang sampai kini telah memberi putra~putri bernama Julian Sander dan Jessica Sandrina.  Pengalaman tanggung jawab untuk dapat berdialog, dengan lingkungan dan pemakai," demikian paparnya serius.